Nasehat Emas Menjelang Iftar Bersama Oleh K.H. Hasan Basuni

Barabai (PPM Darul Istiqamah) – Pimpinan Pondok Pesantren Modern (PPM) Darul Istiqamah Barabai, K.H. Hasan Basuni adalah sosok yang tak pernah bosan untuk mendidik dan mengingatkan serta memotivasi para santri Darul Istiqamah akan hal-hal yang baik dan positif sesuai ajaran syariat agama Islam. Bertempat di halaman rumah K.H. Hasan Basuni. (Jum’at, 22 Maret 2024/11 Ramadhan 1445 H).

Dalam nasehatnya kali ini kepada para dewan asatidz wal ustadzaat, K.H. Hasan Basuni menitikberatkan tentang pentingnya Ilmu dan kenapa kita harus berilmu serta betapa meruginya masa muda dan waktu luang kalau tidak dikelola serta digunakan dengan baik.

Jangan sampai diri kita ini merasa kosong atau bahkan bingung dalam memanfaatkan waktu, karena yang namanya hayun (hidup) itu harus harakah (bergerak). Artinya jangan sampai hidup kita ini stagnan atau pasif (tidak bergerak) yang mengakibatkan terciptanya waktu kosong dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus memerangi kekosongan itu dengan memperkuat iman dan berusaha mengembangkan diri dengan menambah keilmuan kita agar terhindar dari kesia-siaan waktu luang yang menghantarkan kita ke arah maksiat kepada Allah. Naudzubillahi min dzalik.

Salah satu perbedaan manusia dan hewan itu terletak pada akal dan kesadarannya dalam berperilaku. Jadi kita sebagai manusia harus pandai menata akal, hati, dan jasmani kita agar tidak terjerumus ke dalam tipu daya hawa nafsu yang dapat menjadikan kita lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan binatang.

Kita sebagai manusia harus berilmu, agar akal, hati dan tindakan kita terarah dan sesuai dengan jalur keilmuan yang benar serta memancarkan teladan yang baik bagi setiap insan yang melihat dan berinteraksi dengan kita. Sehingga tidak ada lagi yang namanya lebih dulu mulut berucap daripada otak berfikir. Karena orang yang berfikir (berilmu) sebelum bekerja jauh lebih baik dibandingkan orang yang bekerja tanpa berfikir.

Inilah alasannya kenapa kita harus berilmu dan menjadi ahli ilmu, karena sejatinya;

فضل العلم أحب إلى الله من فضل العبادة

Yang artinya: “Keutamaan ilmu lebih Allah cintai dari pada keutamaan ibadah,” hal itu dikarenakan ilmu dapat mendorong kepada keutamaan ibadah, dan ibadah disertai dengan kekosongan ilmu pelakunya terhadap ibadah tersebut bisa jadi tidak menjadi sebuah ibadah.

Sebagaimana juga yang termaktub di dalam kitab Matan Matan Lubabul Hadits, Karya Jamaluddin bin Kamaluddin As Suyuthi tentang “Keutamaan orang `alim (yang mengamalkan ilmunya) mengalahkan `abid (ahli ibadah) adalah bagaikan rembulan (bulan purnama) yang mengalahkan semua bintang-bintang”.

Begitu juga yang disebutkan di dalam Surat Ali Imran Ayat 18 menunjukkan martabat yang tinggi dari para ulama karena mereka telah disejajarkan dengan malaikat yang mulia yaitu sama-sama dapat menyaksikan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga karena kebijaksanaannya dalam berfikir dan bertindak untuk menegakkan keadilan.

Bahkan di dalam muamalah pun kita harus mempunyai ilmu yang luas agar tidak mudah tersinggung dengan perkataan orang lain, karena ketika kita mudah tersinggung, emosi dan tidak tahan akan kritik itu telah mencerminkan akan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) kita. Sedangkan salah satu ciri SDM yang tinggi ialah, tidak mudah terbawa emosi, terlihat tenang dan damai, bahkan setiap perkataannya pun tersusun dan terarah. Dan orang dengan SDM yang tinggi juga dapat memerangi serta menjauhkan dirinya dari terbuangnya waktu untuk hal yang sia-sia.

Maka dari itu, berusahalah kalian untuk mengembangkan diri dengan menambah keilmuan dan mengupgrade skill serta bakat yang dimiliki agar terhindar dari terbuangnya waktu luang untuk hal yang sia-sia.

Jadilah manusia mustafid yaitu yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan sekitarnya.

Penulis: Baqi
Editor: Ustadzah Kiki Mustaqimah, Lc
Foto: Copyright DARUL ISTIQAMAH MEDIA